Dia dan Nyawa dalam Tulisanku


Sudah lama halaman ini kosong. Tanpa tulisan, tanpa kata, juga tanpa rasa. Aku terlalu sibuk menari-nari dengan anganku.  Hingga lupa bahwa dalam tulisanku lah aku bernyawa. Aku hampir kehilangan kata untuk menulis perihal apa yang kurasa. Terlalu banyak. Terlalu menakutkan untuk kutuang dalam sebentuk kalimat sederhana. Aku benci diam, tetapi aku terdiam. Aku tidak bisa berkata, tetapi dalam setiap yang tertulis olehku, aku berbicara. Ini sungguh membingungkan bagiku. Namun, aku ingin kembali hidup dengan baris demi baris yang terangkai rapi oleh jentikan jemariku.

Aku mulai rindu menulis tentang dia. Tentang laki-laki yang tetap bersamaku meski aku tau, dunia ini menyuguhkan yang lebih indah dari hanya sekedar aku. Aku rindu berdebat dengan rasaku saat harus menulis perihalnya. Ntah baiknya, bodohnya, khilafnya, maklumnya, dan segala yang pada akhirnya hidup di dalam aku. Dia seperti tulisan ini. Menghidupkan aku. Memberi nyawa pada jiwa yang pernah tak berarti sebelumnya. Juga menjadi alasan mengapa aku selalu ingin menulis. Meski malam sudah terlalu larut dan sepi mulai membelenggu isi kepalaku.

Bagiku, dia sebentuk kepala dan raga sederhana dengan hati yang luar biasa tabah dalam mencintaiku. Aku tidak sedang ingin membuatnya besar kepala dengan tulisanku. Hanya saja, aku berusaha untuk berbicara melalui kalimat demi kalimat yang membuatku terdiam dalam nyata. Andai dia tau, betapa berarti hembusan nafasnya yang setiap detik kuhirup dengan lega. Bahwa dia bukan hanya manusia yang datang untuk memberi bahagia dalam hidupku. Dia juga menyuguhkan lara, kecewa, airmata, juga luka-luka yang tidak bisa kupahami sepenuhnya. Lantas, mengapa aku tetap bertahan? Sedang dia ada namun tidak selalu menyuguhkan tawa. Kau tau, hidup ini memang kadang terasa tidak adil bagi kita yang terluka. Namun bukankah luka dan bahagia diciptakan sesuai dengan porsi mereka? Tuhan tidak pernah mengutuk luka tanpa membayar bahagia setelahnya. Bukankah selalu ada pelangi setelah hujan reda?

Aku percaya pada setiap luka yang ada. Mereka mengajarkan padaku perihal bagaimana manusia dan rasa nya. Aku tau, bersamaku adalah pilihan yang tidak mudah baginya seumur hidup. Egoku seringkali melumpuhkan asanya. Rapuhku yang mau tidak mau menjadi bagian dari hidupnya. Tentu saja tidak mudah menjadi dia yang harus bertahan denganku hanya sebab hatinya ingin. Hanya karena hatinya percaya bahwa bersamaku adalah sebaik-baiknya cinta untuknya. Dan menjadi pilihannya rasanya seperti sebuah doa yang kuminta pada Tuhan saat kehidupan mematahkan percayaku pada dunia. Aku tidak pernah percaya bahwa kehidupan ini berpihak padaku. Namun setelah dia ada, hatiku seperti sesak dipenuhi rasa syukur bahwa Tuhan mengikat seluruh doa lalu dilepaskanNya satu-persatu di waktu yang semestinya.

Dia..

Dan sebait tulisanku ini,

Adalah nyawa.

Yang menghidupkanku hanya dengan sehelai nafas yang dihembuskan setiap detiknya.

Komentar