Jauh
sebelum penghianatan itu ada, percayaku penuh padamu. Jarak, juga segala hal
yang merintangi seakan kerikil kecil bagiku untuk tetap percaya bahwa kita
mampu. Seberapapun jauhnya tak pernah membuatku berkecil hati, kau adalah tuju
bagiku. Alasan dari senyum sumringahku saat waktu pulang ke kotaku telah tiba.
Dengan menghadiahkan segala rindu yang nantinya akan kulepas satu persatu dalam
pelukmu. Begitu harapku, selalu.
Namun
aku lupa bahwa yang penuh akan tumpah. Lenganku mungkin tidak selalu ada saat
gundahmu meraba. Ragaku juga, hanya berdiam jauh untuk tetap menenangkanmu
walau gundahku juga tak terbendung rasanya. Aku takut saat sedihmu pecah, aku
tetap tak ada, dan kau memilih tiada. Sejauh ini kau paham maksudku, bukan?
Iya. Jauh sebelum penghianatan itu ada, takutku lebih dulu menusuk dada.
Bagaimana
mungkin segala yang kita lalui begitu mudah kau serahkan padanya? Hatimu, juga
asa yang kususun setiap langkah. Kau berpaling seolah aku tak pernah ada.
Seolah aku akan segera berdiri setelah remuk redam yang kau buat pada kisah
kita. Jika kau fikir jarak itu mudah bagiku namun sulit bagimu, bagaimana bisa
aku mengutuk waktu agar ia berhenti bergerak saat kau terkapar dalam pelukku?
Sungguh, ini juga tidak mudah untukku. Hanya saja aku meletakkan percayaku
sepenuhnya padamu. Hingga aku lupa bahwa yang penuh akan tumpah juga pada
waktunya.
Pria
sepertiku terlalu naif jika kukatakan bahwa aku tidak terluka. Namun inilah
adanya. Aku bahkan tidak bisa menampar diriku sendiri agar aku terbangun dari
mimpi buruk yang terus menerus membuatku tersiksa. Beberapa saat setelah kutau
kau dengannya, dengan mudahnya lagi kau melukis cerita seolah tidak ada yang
terluka. Kau terlihat bahagia menari diatas pecahan asa yang tidak ingin
kususun lagi serpihannya.
Andai
saja kau tau, setelah penghianatanmu, aku bersumpah pada diriku untuk tidak
lagi menerimamu sebagai apapun. Ini bukan tentang aku menyimpan dendam atau aku
masih terluka. Aku hanya tidak ingin melihat lagi asaku yang pernah lebur di
matamu. Jauh sebelum kau datang untuk memohon ampun, aku sudah memaafkanmu.
Hanya jangan kembali. Sebab kau tak akan pernah tau seremuk apa aku setelah
penghianatanmu.
Dan
hari ini, aku sudah kembali utuh. Memulai segalanya dengan hati yang baru.
Meski belum juga kutemui seorang pengganti, namun aku menikmati. Hidupku tidak
lagi perihal hancur-hancurnya saja setelah kepergianmu. Aku memilih untuk
melanjutkan kembali dengan asa yang kususun satu persatu oleh diriku sendiri.
Kau tidak perlu khawatir bagaimana aku hari ini. Aku sudah lebih baik, bahkan
luka itu tidak lagi terasa sakit. Namun dibalik ini, aku meletakkan harap, agar
tak ada lagi kau dalam bentuk apapun di hidupku selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar