Ternyata,
tahun-tahun terberat dalam hidup memang tidak cukup dilewati hanya dengan
menanti segala badai akan usai. Tidak semua manusia dibekali oleh nikmat yang
membuat mereka cukup. Ada yang harus tetap membusungkan dada agar dunia tidak
membuatnya terbunuh oleh luka. Tahun-tahun ini terasa berat, yaa? Badai rasanya
tak kunjung menemui akhir. Ada, tiada, ada, dan tiada lagi. Begitu seterusnya.
Rasanya memang tubuh dan hati kita dituntut untuk tangguh melewati uji yang
tidak mudah bagi seluruh manusianya.
Keadaan
ini memang sulit namun bukan berarti menyerah adalah pilihan. Malam itu, pada
dadaku, kau pulang dengan sejuta kecewa pada genggaman. Kau tersungkur seolah
dunia ini sedang main-main dengan perjuanganmu. Kau dipermainkan oleh ujian
yang juga membuat seluruh manusia hampir hilang warasnya. Tentu saja, bukan
hanya kau yang sedang putus asa. Namun kecewamu menutup segala hal-hal baik
yang seharusnya tetap ada ; rasa syukur.
Kepalan
jemarimu menggenggam, airmatamu pecah, dadamu remuk tak terkira. Andai saja kau
tau, aku jauh lebih remuk menyaksikan pelangi penderma hujanku kembali dengan
badainya. Kau memohon ampun padaku atas kegagalan melawan pertandingan dalam
hidup. Sungguh, aku tidak pernah mengharapkan kemenangan darimu. Hanya kau bisa
memastikan dirimu tetap baik-baik saja, itu cukup bagiku untuk bernafas dengan
lega. Namun, lelaki adalah lelaki. Satu sisi darinya malu untuk mengakui sebuah
kekalahan, sedang sisi lainnya ingin pulang.
Aku
menghirup nafasku dalam-dalam. Memastikan diriku yang harus lebih tangguh
darimu yang tetap berusaha kuat dengan airmata berserakan. Dadaku laksana
kekuatan lain untukmu. Sedang untuk menguatkanmu, aku harus lebih dulu menjadi kuat.
Meski nyatanya, aku sedang mati-matian menahan badai dalam mataku agar tak
pecah juga. Hanya agar kau bisa bangkit lagi, melanjutkan perjalananmu, dan
memastikan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Kau hanya lelah. Butuh pulang
sebentar saja.
Lalu,
setelah kering airmatamu, kau tak perlu tau bahwa malam-malamku akan panjang
dengan doa-doa memohon kekuatan. Aku tidak setangguh saat jemarimu
menggenggamku. Ada getir yang kutahan dalam nadiku. Ingin rasanya tersungkur,
namun aku tercipta dari bongkahan kesedihan yang disusun untuk menguatkanmu.
Tak apa, kataku. Dibalik punggungmu, ada aku yang akan mengumpulkan segala
kekuatan untuk kuberikan padamu. Nanti, saat badai ini telah berlalu, kau akan
tau.. selain doa ibumu, ada doaku yang juga terus mengalir dalam nadimu,
selalu.
Komentar
Posting Komentar