Hei..
Sudah terlalu lama kah aku
menghilang dari tulisan-tulisanku tentangmu?
Sudah terlalu usang kah kalimat
yang seharusnya kutulis untukmu?
Sudah pupus kah pengharapan
atasmu dalam hidupku?
Tentu. Aku sudah
cukup lama menghilang. Tidak lagi merangkai kata tentang manusia yang selalu
menjadi alasanku tetap menulis sajak cinta, meski aku sedang terluka. Hilangku
seperti menumbuhkan dugaan tentang bagaimana rasaku padamu hari ini. Begitu bukan?
Sudah cukup lama pula
aku menjadi asing atas diriku. Atas pengharapan padamu. Dan rasaku yang semakin
hari semakin menumpuk ragu.
Mampukah aku atas kisah ini?
Percayakah hatiku pada semesta
yang telah membawaku sejauh ini?
Kau tau, aku sedang
ketakutan jika suatu hari nanti ego akan mematahkan kita berdua. Ntah aku yang
terlalu lelah, atau kau yang menyerah. Aku dilanda kalut saat segala terjal satu-persatu
menghadang kisah kita. Aku takut pada banyak kemungkinan diluar kuasaku. Pun aku
sudah mulai kelelahan dengan pengharapan yang sedari awal tidak seharusnya
kuletakkan setinggi itu.
Ini bukan perihal rasaku
yang memudar, namun keyakinanku yang mulai mengikis asa. Aku merasa sudah
berjalan cukup jauh, mengusahakan dengan sungguh, menemani dengan penuh, juga
mencintai tanpa ingin mengeluh. Namun perihal bagaimana akhirnya, aku tetap
ingin meletakkan pengharapanku sepenuhnya pada semesta. Sebab terlalu
mencintaimu menjadikanku lupa bahwa semesta adalah penentu segalanya.
Aku tau, kita adalah
dua manusia asing yang telah cukup jauh berjalan hingga akhirnya menjadi saling
dalam segala hal. Meski terkadang ego menjadi pembunuh paling menyeramkan. Namun
seolah tak terpisahkan, kita tetap menemui alasan untuk kembali lagi dan lagi. Seperti
tidak ada hal yang lebih baik dari saat kita menjadi saling. Bagaimanapun keadaannya.
Hingga hari ini, aku masih
memupuk harap juga membunuh ragu pada akhir dari kisah ini. Aku hanya takut
kita sedang menjadi lakon atas permainan semesta. Yang akhirnya akan mematahkan
keduanya. Aku memang sudah mulai kelelahan merangkai asa meski kutahu pengharapan
selalu ada.
Meski begitu, kau
harus tau..
Hingga sajak ini
kutulis, rasaku tetap sama besarnya seperti saat pertama kali kuletakkan pada
dadamu. Hanya saja pengharapanku lah yang sudah mulai kelelahan. Ingin rasanya
aku tetap mencintai tanpa pengharapan apapun. Namun rasanya terlalu naif jika
rasaku yang tumbuh sedalam ini tidak meletakkan harapan sedikitpun padamu.
Akupun tau, hidup ini
memang perihal pengharapan panjang yang digantungkan pada semesta. Pada yang
berkuasa menetapkannya. Kutau tidak segala hal diwujudkan olehnya. Seleksi alam
selalu menjadi pemenang tak perduli bagaimana hati manusianya. Meski begitu,
aku tetap meletakkan pengharapan pada sang maha cinta. Melalui doa-doa. Agar kita
dijaga dan senantiasa dikuatkan bagaimanapun badainya.
Komentar
Posting Komentar