Kufikir perjalanan ini tidak akan sampai pada tuju. Ntah berpisah karena ketidak-mungkinan atau kita yang sudah terlanjur kelelahan. Dua-duanya menjadi pilihan dalam anganku sejak awal pertemuan kita dirundung pilu. Aku selalu berfikir bahwa aku tidak sekuat itu. Sisi manusiawi ku seakan membawaku pada pelarian paling jauh dari hubungan ini. Aku tidak sanggup melawan restu. Berkeras kepala pada keyakinan bahwa kita akan satu. Ini melelahkan sekali. Bahkan jika aku bisa marah pada keadaan, aku akan marah sejadi-jadinya untuk melepas segala sesak yang selama ini tertahan di dada. Tentu ini bukan jalan yang kita inginkan. Tetapi untuk berjalan melewati ini, rasanya sebagai manusia biasa hatiku belum sampai pada batas kuatnya.
Aku tahu bahwa
Tuhanku tidak pernah menjanjikan semua jalan akan mudah. Tetapi kita lah yang
akan dikuatkan. Namun bak buah simalakama, aku terperangkap dalam ketidak-mampuanku
beranjak. Sedang di lain sisi aku sudah cukup berdarah-darah. Tak terhitung
berapa kali inginku bertahan dibunuh oleh kenyataan. Aku hanya ingin tenang,
menikmati perjalanan tanpa terbata-bata, memelukmu tanpa merasa seperti teriris
beling kaca. Namun rasanya benteng itu menjulang tinggi dan semakin tinggi
setiap harinya. Lalu kita seperti kehilangan nyawa untuk tetap sama-sama.
Setiap malam saat
lelap menutup mata semua orang, aku tersungkur diatas sajadahku untuk meminta
kekuatan. Inginku bertahan jauh lebih besar daripada inginku meninggalkan. Atas
apa yang sudah terlewati ini rasanya terlalu sesak jika dilepaskan begitu saja.
Aku sudah berjalan cukup jauh, sedang kau sudah mengeras bak kepala batu. Lalu
untuk apa berjuang selama ini jika akan berakhir begitu saja? Lantas bagaimana
dengan doa-doa yang senantiasa diterbangkan menembus awan agar didengar oleh
pemilikNya?
Layaknya anak
perempuan yang jatuh cinta pada cerita di buku dongeng yang ia baca sebelum
tidur. Aku selalu berharap kau dan aku akan sama kisahnya dengan buku-buku
dongeng yang kubaca sejak dulu. Happily ever after itu lekat sekali di
kepalaku. Namun aku menyadari bahwa cerita yang ada di buku dongeng pun dibuat
oleh manusia. Sedang cerita manusia dibuat oleh Tuhannya. Kau dan aku mungkin hanya
bisa memperjuangkan kisahnya, tetapi tidak bisa memastikan bagaimana hasil
akhirnya.
Seperti mantra ajaib,
doa-doa panjang yang kuminta spesifik itu akhirnya sampai pada Tuhanku. Ia membawaku
pada titik yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Rasanya memang Tuhan baik
sekali. Seolah tiba-tiba saja jalan menujumu terang, sedang jalan menujuku
dibuka lebar. Kita diizinkan semesta untuk tetap saling bagaimanapun kacaunya
dunia ini pernah membuat kita berantakan.
Terimakasih, ya..
Perjalanan menuju
satu ini menjadi perjalanan termahal yang tidak bisa kutebus dengan apapun.
Terimakasih karena telah memilih untuk tetap bersamaku lagi dan lagi meski dalam
perjalanan ini banyak hal yang tidak kau senangi. Semoga kita akan tetap satu,
menyatu dengan utuh, sampai waktu mengusangkan kita menjadi debu.
Semangat
BalasHapusSalam de Steffanie. Bisakah saya memesan tulisan untuk buku? Silahkan hubungi saya melalui Whatsapp di nomor 087798310530. Terimakasih
BalasHapusmaaf, bisa langsung menghubungi saya lewat email saja ya. terimakasih
Hapus