Tidak akan pernah ada pelangi tanpa hujan badai
sebelumnya. Kalimat yang kutanam di kepalaku setiap kali badaiku tak kunjung
reda. Aku selalu berusaha meyakini bahwa pelangiku akan dilukis indah oleh
semesta sebagai hadiah atas tabahku yang panjang. Meski aku tau, pelangiku
tidak kubayar cuma-cuma.
Berpuluh tahun hidupku penuh dengan ajaibnya rencana
semesta. Sampai dengan pertemuanku denganmu sekalipun. Ternyata doa panjangku tentang
seseorang itu mengarah padamu. Membawa manusia sepertimu untuk masuk dan
mengambil seluruh hidupku, untuk seumur hidup denganmu. Aku tidak mengerti apa
maksud Tuhan menulis takdirku untuk menjadi rusuk dari seorang laki-laki yang
kutau akan sulit bagiku menjalaninya. Aku takut dan itu nyata.
Bersamamu, aku harus melewati banyak jembatan yang
pertaruhannya jurang untuk sampai di tujuan. Aku harus berhati-hati agar tidak
jatuh. Meski seringkali aku salah langkah yang justru membawaku pada jurang
itu. Aku yang hampir mati, nyatanya tetap hidup. Dengan harapan langkahku
sampai, cintaku harus menang, kisahku harus berakhir seperti pelangi setelah
hujan badai. Sekalipun aku harus berkali-kali babak belur mempertaruhkan
hidupku untuk hidup denganmu.
Naif rasanya kalau aku tidak pernah kelelahan. Aku bahkan
kehilangan banyak kepingan kekuatan untuk bertahan pada kisah yang sejak awal
menghabisi pertahananku. Badai itu seperti tak kenal jeda menghantam bentengku,
juga derasnya ombak yang terus mengikis karangku. Tetapi sekali lagi, semesta
sepertinya tidak pernah mengizinkanku untuk kalah. Seakan jika bukan Tuhan yang
menginginkan perpisahan itu, maka tidak akan ada yang bisa melakukannya.
Selangkah lagi,
Kita sampai pada titik tertinggi. Di tempat dimana kita
harusnya memenangkan pertarungan untuk kisah ini. Memang tidak berjalan mulus
begitu saja. Aku kembali salah langkah dan tersungkur masuk kedalam jurang. Egoku
meminta agar ia dimenangkan. Setelah berkali-kali kubiarkan ia tenggelam begitu
saja. Namun aku bersyukur, tanganmu tidak pernah melepas genggaman. Meski kali
ini jurang itu lebih dalam.
Aku tau, situasi ini semakin membuat kita kehilangan
arah. Kita seperti sedang dipertaruhkan oleh takdir. Siapa yang lebih layak
memenangkan pertandingan melawan ego ini. Tetapi apapun itu, semoga dikemudian
hari saat kita telah berhasil melewati semuanya, semesta membayar lunas mendung
dan badai itu dengan pelangi yang selalu kita nanti. Dunia mungkin tidak pernah
menjanjikan bahwa hidup kedepan akan mudah. Tetapi semoga saja, sedahsyat apapun
badainya, kita tidak pernah berusaha melompat dari kapal yang kita nahkodai
bersama.
Komentar
Posting Komentar